Pioderma, Penyakit pada Kulit Akibat Bakteri

Pioderma adalah salah satu penyakit infeksi pada kulit disertai dengan terbentuknya pus (nanah) yang biasanya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus B hemoliticus, maupun keduanya.

Bakteri tersebut dapat menyebabkan kerusakan jaringan kulit dan memicu gejala inflamasi atau peradangan, jika telah berhasil masuk ke dalam lapisan kulit.pioderma

Pioderma diklasifikasikan menjadi dua yaitu primer dan sekunder. Primer bila bakteri menyerang kulit yang sehat dengan gambaran yang khas dan disebabkan oleh satu macam bakteri. Sedangkan yang sekunder, bakteri menginfeksi kondisi kulit yang tidak sehat, misalnya akibat terkena infeksi jamur, infeksi virus dan luka bakar.

Gejala klinis infeksi bakteri pada pioderma sangat bervariasi, sesuai dengan bakteri penyebabnya, bagian tubuh yang diserang,dan kondisi daya tahan tubuh seseorang. Yang termasuk dalam penyakit pioderma superfisialis adalah impetigo bulosa, impetigo krustosa, abses, ektima, folikulitis, karbunkel dan furunkolosis.

Ada beberapa hal yang dapat menjadi faktor penyebab timbulnya pioderma ini, diantaranya kurangnya kebersihan, daya tahan tubuh yang menurun (misalnya kurang gizi, anemia), dan sudah ada penyakit sebelumnya.

Diagnosis dan Pengobatannya

Diagnosis pioderma cukup khas, dan dapat ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang dapat membantu menentukan organisme penyebab.

Pengobatan sistemik dan topikal merupakan tangkah pengobatan pioderma. Pengobatan ini bertujuan untuk menghilangkan kuman penyebab sehingga dapat sembuh dengan cepat dan mencegah penyebaran penyakit. Pemilihan terapi antibiotika oral atau topikal bergantung pada gejala klinis, luas penyakit dan pola resistensi kuman.

Pada yang sistemik, dokter akan memberikan antibiotik. Sedangkan yang untuk topikal, antara lain berupa kompres dengan larutan permanganas dan antibiotik.

Selain dengan obat-obatan, penanganannya juga berupa edukasi baik pada pasien maupun keluarganya agar menjaga kebersihan tubuh, menjaga stamina atau daya tahan tubuh, tidak boleh menggaruk luka. Untuk antibiotik pasien juga perlu diberikan edukasi untuk mencegah kemungkinan terjadinya resistensi.

Redaksi info :  Dermatologis Team Jakarta Skin Center

share ke sosmed